aku sosial detik ini adalalah aku yang seorang murid tengah mencoba berbakti dengan petunjuk sang guru.menulis tentang ontologi diri. berikutnya, aku adalah mahasiswa UNY yang duduk di antara mereka yang sama-sama memanfaatkan Internet gratis. dan mungkin sebagian mereka memandang aku sebagai kompetitor, karena mereka juga butuh untuk memakai PC yang aku gunakan. Dan dalam hatiku,aku menjawab pandangan mereka yang aku tafsirkan dengan "bentar ya mbak, mas, gantian..."
Selain itu, aku detik ini adalah salah satu anggota keluarga yang dinanti kehadirannya untuk pulang. atau aku ditunggu oleh kondektur bus yang mencari penumpang. atau aku yang sebenarnya segan untuk menaiki bus itu, karena takut mabuk di perjalanan. atau aku adalah teman yang ditunggu teman lain karena aku kirim pesan butuh utang untuk pulang.Akh, aku sosial dalam detik yang sama ternyata memerlukan selaksa ujaran untuk dituntaskan. dan aku yakin aku sosial detik ini tidak akan selesai sekarang...karena detik itu kini mendesakku untuk beranjak...menjalani fungsi sosial pada detik ini juga....
Tampilkan postingan dengan label Who am I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Who am I. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 November 2009
aku, sosial...
Wah, bagian ini aku akan menjadi sosok yang berlimpah, karena jawaban atas "siapa aku" akan sangat banyak dan semuanya memiliki kebenarannya sendiri. karena aku berelasi dari titik awal kehidupanku hingga ke titik akhir yang aku tuju. aku bisa menjadi "bayi kecil yang biasa diemong sama 'mbah um,' katanya"...ya seperti Melly Goeslow (MG) yang kalau aku ditanya siapa dia atau bila dipandang dari sisi Melly Goeslow "siapa aku" maka aku akan menjawab bahwa "kamu adalah penyanyi cerdas dan kreatif." tetapi dia menjadi aku yang lain ketika bernyanyi, "kata mereka, diriku selalu dimanja, kata mereka, diriku selalu ditimang" maka aku MG menjadi bayi kecil seperti aku Khristianto yang aku ceritakan tadi....dan bila kita runut kontinum itu secara ekstrim, maka ujung dari aku sosial barangkali "aku adalah anak ibuku" dan pangkal aku sosial adalah "aku adalah sosok tubuh yang barusan dimakamkan." meskipun, ketika aku sosial itu diingat lagi dan disebut lagi oleh mereka yang masih hidup, aku mungkin akan bangkit lagi melalui relasi-relasi yang terbentuk dari langkah-langkahku sebagai aku sosial. Maka, aku tetap menjadi bapak si reza, yang mungkin masih hidup ketika itu, atau menjadi eyang dari anakku itu, bila kelak dia punya. atau aku mungkin menjadi nama yang dikutip dari orang yang mengutip dari artikel-artikel kecil yang pernah aku jentikan dengan enam jariku....maka aku sosial menjadi ribuan kata yang takkan habis aku tulis.
aku, transendental...
sejalan dengan keberadaanku sebagai di antara malaikat dan hewan itu, aku berupaya menjadi aku pada orbitku yang semestinya, maka tali kekang syariat kuusahakan kupegang erat, meski kadang terasa licin dan terlepas. Pemahaman tali kekang itu amat penting sebagai pertahanan diri untuk memantek diri pada orbit kesejatianku. Dalam kesadaran semacam itu, aku adalah gumpalan kecil transendental seperti benang yang menjulang tegak ke atas,yang sering tidak tegak benar karena lunaknya sifat benang, serta saputan angin dan hujan.
Langganan:
Komentar (Atom)